01/03/2026
MBAH JIWO: GULAI DARI DAGING CUCU SENDIRI
Probolinggo, 1992
---
Malaikat Kecil Desa Kandang Jati Kulon
Di sebuah desa di Probolinggo, hiduplah keluarga kecil yang bahagia. Haryanto dan Emi memiliki putri semata wayang bernama Faridatul gadis kecil berusia 5 tahun yang akrab dipanggil Farida.
Farida anak rajin. Setiap menjelang maghrib, dengan mukena putih kesayangannya, ia berjalan kaki ke mushola untuk mengaji. Biasanya sekitar pukul 20.00 ia sudah pulang. Di desa itu tinggal juga Mbah Jiwo, Sujiwo namanya. Ia bukan nenek kandung Farida, melainkan adik dari nenek kandungnya. Tapi Farida tetap memanggilnya "Mbah".
Setiap sore Farida main ke rumah Mbah Jiwo yang hanya berjarak 15 meter. Di sana ia selalu disuguhi kerak nasi goreng, makanan kesukaannya. Mbah Jiwo selalu tersayup-sayup mengelus rambutnya. Orang tua Farida tak pernah curiga. Mereka justru senang anaknya menemani Mbah Jiwo yang hidup sebatang kara. Mereka tak tahu, di balik senyum itu ada kegelapan yang siap menerkam.
---
Malam Pencarian
Suatu malam, Farida pamit ngaji. Tapi hingga pukul 20.30 ia tak pulang. Pukul 21.00 Emi gelisah. Tengah malam, Farida tak kunjung tiba. Haryanto membunyikan kentongan. Warga keluar membawa obor. Nama Farida diteriakkan di setiap sudut desa.
Kepala Desa ikut turun tangan. Di tengah pencarian, ia menyadari satu hal: dari semua warga, hanya Mbah Jiwo yang tak terlihat. Pak Kades berjalan sendirian ke rumah Mbah Jiwo. Pintu depan terkunci. Dari dalam terdengar musik dangdut kroncongan diputar kencang.
Saat mengelilingi rumah menuju pintu dapur, kakinya menyenggol sesuatu. Sebuah baskom tertutup tampah terguling. Pak Kades menyorotkan senter. Di dalam baskom itu, terdapat potongan tangan manusia. Tangan kecil mungil anak-anak. Di dekatnya, sepasang sandal jepit, sandal yang sama dengan sandal Farida.
---
"Memang Saya yang Menyembelih Farida"
Pak Kades berteriak histeris. Mbah Jiwo keluar dengan wajah tenang. "Itu ceker ayam," jawabnya enteng. Pak Kades masuk paksa. Di dalam, bercak darah di mana-mana. Di lantai tanah. Di dinding dapur. Pisau dengan noda merah masih tergeletak.
Di depan pintu, sandal jahitan yang biasa dipakai Farida main ke rumah itu. "Di mana Farida, Mbah?!" Mbah Jiwo menatap kosong. Lalu dengan suara datar tanpa getaran, ia berkata: "Memang saya yang menyembelih Farida. Saya potong-potong jasadnya. Mau saya buat gulai."
Pak Kades berlari keluar memanggil warga. Haryanto dan Emi datang. Melihat potongan tangan anaknya di baskom, Haryanto jatuh berlutut. Raungan pilu pecah di malam itu. Emi pingsan. Mbah Jiwo hanya duduk di sudut, menatap semua dengan wajah tenang. Sebelum digiring polisi, ia sempat berkata: "Bumbunya sudah saya racik. Sayang belum sempat makan."
---
Pengakuan Sadis
Di kantor polisi, Mbah Jiwo bercerita dengan tenang. Ia mengaku sering mendengar bisikan gaib dari maghrib sampai Isya yang menyuruhnya memakan daging anak kecil agar awet muda. Malam itu, ia melihat Farida pulang mengaji sendirian. Dipanggilnya. Farida datang tanpa curiga, mengira akan diberi kerak nasi.
Di dalam rumah, Mbah Jiwo menyuruh Farida tiduran di lantai tanah. "Tunggu sebentar, Mbah ambilin kerak nasi." Saat Farida terbaring polos, Mbah Jiwo mengambil pisau dari belakang. Sekonyong-konyong, pisau itu ditusukkan ke leher mungilnya.
"MBAH... KOK... FARIDA... DITUSUK...?" suara anak itu tersendat-sendat. Darah muncrat. "FARIDA... MAU DIBUNUH... YA, MBAH...? FARIDA... SALAH... APA...?" Pertanyaan terakhir seorang anak lima tahun sebelum ajal menjemput.
Tak ada jawaban. Hanya tusukan kedua, ketiga, keempat berulang sampai tubuh kecil itu diam selamanya.
---
Mutilasi 79 Bagian
Setelah Farida tewas, Mbah Jiwo menggendong tubuh mungil itu ke dapur. Di sinilah, di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, ia mulai bekerja. Pisau yang sama digunakannya untuk memotong-motong tubuh Farida. Satu per satu. Tangan kanan. Tangan kiri. Kaki kanan. Kaki kiri. Paha. Betis. Lengan. Jari-jari mungil. Tubuh itu diiris-iris seperti memotong daging ayam. Tulang-tulang kecil dipisahkan dengan sekali tekan.
Dan yang membuat bulu kuduk merinding: Mbah Jiwo melakukan semua itu sambil memutar lagu dangdut kroncongan favoritnya dari radio tua di sudut dapur. Ia bergoyang kecil mengikuti irama. Kadang bersenandung. Kadang tersenyum sendiri. Ia menguliti beberapa bagian. Memisahkan daging dari tulang. Menaruh potongan-potongan itu ke dalam baskom dan kuali. Proses pemotongan dan pengulitan ini berlangsung hingga pukul 22.00 malam.
Hasilnya? Tubuh Farida terpotong menjadi 79 bagian. Tujuh puluh sembilan potongan dari tubuh mungil anak berusia lima tahun. Luar biasa kecilnya potongan itu seperti daging untuk rendang. Setelah selesai, Mbah Jiwo mencuci potongan daging itu. Ia sempat berpikir mau dibuat sop, tapi akhirnya memutuskan: gulai. Masakan berkuah santan kuning dengan rempah-rempah.
Ia mulai meracik bumbu. Bawang, kunyit, jahe, lengkuas, ketumbar. Diulek di cobek dengan tenang. Santan sudah disiapkan. Kuali sudah di atas tungku. Api siap dinyalakan. Saat sedang asyik meracik bumbu, terdengar suara dari luar: Pak Kades memanggil-manggil. Mbah Jiwo menghela napas, beranjak membuka pintu belakang. Dan sisanya kita sudah tahu.
---
Kepala di Dalam Dandang
Saat polisi olah TKP, mereka menemukan pemandangan lebih mengerikan. Di kuali, potongan daging siap masak. Bumbu sudah tercampur. Tapi saat forensik mencoba menyusun potongan tubuh, satu bagian hilang: kepala.
Setelah menggeledah seluruh rumah, mereka membuka sebuah dandang nasi aluminium di atas lemari. Di dalamnya, terbungkus kain, terdapat kepala Farida. Mata mayat itu mungkin masih setengah terbuka, mulutnya mungkin masih setengah menganga, disimpan di tempat menanak nasi.
Polisi berpengalaman pun mual. Saksi mata tak kuasa menahan muntah.
---
Gila dan Trauma
Tes kejiwaan menyatakan Mbah Jiwo mengidap gangguan jiwa berat. Dulu ia normal, tapi sejak kakaknya (nenek Farida) meninggal 20 tahun lalu, mentalnya terguncang. Perilakunya aneh. Kadang mencegat dan memukul ibu-ibu lewat.
Tapi tak ada yang menyangka akan separah ini. Di persidangan, Mbah Jiwo dinyatakan tak bisa dihukum. Ia dikirim ke Rumah Sakit Jiwa. Haryanto berkata dengan mata berkaca-kaca: "Saya ikhlas anak saya mati. Tapi tidak begini caranya. Tidak begini."
Yang lebih tragis, Haryanto dan Emi mogok makan berbulan-bulan. Setiap kali melihat masakan berkuah santan atau potongan daging, mereka teringat anaknya yang hendak dijadikan gulai. Berbulan-bulan mereka hanya makan sayur.
---
Urban Legend
Peristiwa ini menggegerkan Probolinggo. Hingga hari ini, nama Mbah Jiwo masih terus diomongin. Cerita ini jadi urban legend, legenda kota yang diceritakan turun-temurun. Para ibu menggunakan nama Mbah Jiwo untuk menakut-nakuti anak-anak bandel.
Kalau dulu takut sama Wewe Gombel, sekarang levelnya naik. Para ibu akan berkata: "Kalau kamu nggak mau pulang sampai maghrib, nanti kamu diculik Mbah Jiwo! Kamu bakal dipotong-potong terus dijadiin gulai!"
Anak-anak langsung lari terbirit-birit masuk rumah. Nama Mbah Jiwo lebih efektif dari seribu ancaman. Bahkan beberapa warga Probolinggo yang hidup di era 90-an masih ingat betul bagaimana orang tua mereka menggunakan cerita ini untuk membuat mereka patuh.
---
Kasus Mbah Jiwo mengajarkan bahwa kengerian tak selalu datang dari makhluk halus. Kengerian sejati kadang lahir dari manusia itu sendiri dari seseorang yang kita kenal, kita sayangi, bahkan kita panggil "nenek". Mbah Jiwo adalah pengingat bahwa kegelapan bisa bersemayam di balik senyuman paling hangat sekalipun. Bahwa di balik keramahan yang menawarkan kerak nasi goreng, bisa jadi ada pisau yang siap menghunjam.
Dan yang paling tragis, Farida anak polos lima tahun itu meninggal dengan pertanyaan yang takkan terjawab: "Mbah, Farida salah apa?" Tidak, Farida. Kamu tidak salah apa-apa.
---
Probolinggo, 1992. Mbah Jiwo. Farida. 79 potongan. Dan gulai yang tak pernah dimakan.