12/08/2017
Ronaldo yang Asli adalah Ronaldo de Lima
Reporter: Arlian Buana
19 September 2016
tirto.id - Pada suatu masa, jauh sebelum jambul khatulistiwa Syahrini menjadi beken, Indonesia, bahkan dunia, pernah kena demam jambul Ronaldo. Nama terakhir yang dimaksud bukan Ronaldo yang sengak yang senantiasa menjadi bayang-bayang Lionel Messi dan yang Cristiano itu, melainkan Ronaldo Luís Nazário de Lima. Sang Fenomena.
Demam itu terjadi setelah Piala Dunia 2002, Piala Dunia pertama di Asia yang berlangsung di dua negara: Jepang dan Korea Selatan. Di perhelatan akbar empat tahunan itu, dengan rambut kuncung, Ronaldo tampil luar biasa, mencetak delapan gol dan mengantarkan negaranya, Brasil, mengangkat trofi teragung sepak bola untuk kelima kalinya. Catatan sejarah yang akan dibaca orang sampai kiamat.
Demam itu berlangsung cukup lama. Gaya rambut Ronaldo diikuti banyak selebritas dunia, para penggemarnya, para pendukung Selecao, dan orang-orang yang merasa perlu merayakan. Bahkan di sini, sejak Desember 2002, rumah produksi Multivison menggarap sinetron Kecil-Kecil Jadi Manten: Tokoh utamanya seorang cewek tomboi bernama Rohaye, diperankan oleh mendiang Sukma Ayu, hobi main bola dan mencukur gundul kepalanya menyisakan hanya sejambak rambut hitam di atas dahi, meniru gaya Ronaldo. Sekali lagi Ronaldo yang asli, yang juara dunia itu, bukan Cristiano yang songong.
Kecil-Kecil Jadi Manten ditayangkan di RCTI hingga Mei 2004.
Tapi bukan itu yang membuat Ronaldo, yang hari ini berulang tahun keempat puluh, menjadi Il Fenomeno. Ia menjadi Sang Fenomena karena kemampuan bermain bola yang belum pernah ditunjukkan para pendahulunya. Tidak Pele, tidak Gerd Muller, tidak p**a Maradona. Ia cepat, kuat, punya postur tinggi besar, sekaligus juga superlincah. Ia predator yang ditakuti semua kiper dan pemain belakang. Tapi cedera lutut memaksanya mengubah gaya bermain.
Sebelum menjadi bintang Piala Dunia 2002, Ronaldo didera cedera selama hampir dua tahun. Itulah titik balik penampilannya di lapangan hijau. Ronaldo versi pasca2002 menjadi pencetak gol yang hebat, saja, penyarang bola jala gawang lawan, saja, tapi Ronaldo versi 1990-an adalah Ronaldo yang hebat dalam segala hal.
Cedera lutut yang dideritanya pada April 2000, ketika membela Inter Milan, merampas seperangkat daya ledak yang memungkinkannya menjadi pesepakbola terbaik sepanjang masa; perpaduan sempurna antara kecepatan, kekuatan, dan kemampuan olah bola. Bukan pencapaiannya memecahkan rekor gol di Piala Dunia yang membuatnya akan selalu dikenang, melainkan apa yang ditorehkannya ketika ia beranjak dewasa.
Ketika pertama kali mendapat cedera yang mengancam kariernya pada tahun 1999, usianya masih 23 tahun dan ia telah membukukan lebih dari 200 gol bersama Cruzeiro, PSV Eindhoven, Barcelona, Inter Milan dan Brazil. Satu musimnya di Barcelona dengan segera menjadi semacam cerita rakyat: ia mencetak 47 gol dari 49 pertandingan, di mana sebagian besarnya merupakan gol solo.
Angka itu kini memang terdengar nisbi biasa saja karena standarnya telah dinaikkan oleh Messi dan Ronaldo yang lain, tapi pada saat itu belum ada presedennya. Secara kuantitas, kita tidak bisa menilainya dengan standar 2016, tapi 1996. Secara kualitas, sepak bola pada masa itu mungkin tampak lambat dan canggung, namun kecepatan Ronaldo tetap mengagumkan bahkan di mata penonton kontemporer. Kalau kurang percaya, Anda bisa pelototi video YouTube satu musimnya bersama Barcelona.
Cuplikan pertandingan boleh jadi menipu, maka perlulah kiranya menonton ulang satu pertandingan penuh. Laga semi final Piala Dunia 1998 antara Brasil melawan Belanda bisa menegaskan betapa mengancam da mematikanya Ronaldo dan bagaimana ia begitu s**a-ria dengan bola di kakinya. Lihatlah bahasa tubuh para bek Belanda, dengar nada suara komentator ITV Brian Moore atau kebisingan stadion ketika ia menyentuh bola.
"Ronaldo bisa mulai membawa dari garis tengah dan seluruh stadion akan bergairah," kata Sir Bobby Robson, pelatihnya di Barcelona. "Dan gemanya akan melintasi tribun."
Itu karena Ronaldo bermain seperti pemain sayap—tapi ia melakukannya di tengah lapangan, membuatnya jauh lebih berbahaya.
Solo run 46 meternya di perpanjangan waktu semi final Piala Dunia 1998, ketika ia mengecoh Frank de Boer dan Jaap Stam, sebelum Frank melakukan tekel keras untuk menghentikannya, adalah salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah Piala Dunia modern.
Ada banyak pemain depan sebelumnya yang berlari ke sana ke mari dengan bola, Dixie Dean, Eusebio, Preben Elkjaer, dan George Weah, tetapi tidak ada yang melakukannya semenggairahkan dan semenghacurkan Ronaldo. Ia tidak hanya meloloskan diri antara garis pertahanan dan lini tengah, ia bahkan menerobos di antara dua bek, dengan atau tanpa bola. Ia tidak hanya meloloskan bola di lubang jarum; ia membawa dirinya melewati lubang jarum. Ini bisa dilihat dari trigolnya yang terkenal ke gawang Valencia pada tahun 1996, dua gol tercipta melalui celah sangat kecil antara dua bek.
"Dia bukan manusia," kata mantan striker Real Madrid, Jorge Valdano. "Dia kawanan binatang."
Kecintaannya mendribel bola ditunjukkan Ronaldo dengan hobinya mengecoh bahkan hingga kiper yang seakan-akan dianggapnya bek terakhir. Ia s**a sekali membodohi penjaga gawang, pada final Piala UEFA 1998, hanya menggunakan tipuan gerak pinggul, tanpa menyentuh bola, seperti sulap, sekian detik kemudian, kiper Lazio Luca Marchegiani telah berada di belakangnya.
Ia lebih cepat dengan bola daripada kebanyakan orang lari tanpa bola. "Ketika Ronaldo menguasai bola, ia bisa berlari 2.000 mil per jam," kata Zinedine Zidane.
Di masa jayanya, di puncak kebugarannya, ketika kakinya tak terbendung, meski sebelas pemain lawan mengerubunginya seorang diri dan semuanya dibolehkan menggunakan tangan sekalipun, rasanya ia tetap akan mencetak gol. "Aku belum pernah melihat seorang pemain yang mampu melakukan kontrol sepresisi itu dalam kecepatan tinggi," kata Marcel Desailly. "Melihatnya bermain seperti menonton karakter dalam video game."
Dalam banyak hal, Ronaldo adalah pesepakbola PlayStation pertama. Stepover -nya adalah suatu bentuk hipnosis, dan trik khasnya, Elastico, gerakan menipu lawan dengan mengarahkan bola ke arah dalam badan lalu seketika membuangnya ke arah luar, bisa dipastikan berasal dari layar komputer.
Duel paling terkenalnya adalah ketika menghadapi Alessandro Nesta pada final Piala UEFA 1998. Laga ini begitu ditunggu-tunggu karena mempertemukan penyerang terbaik dan bek terbaik. Dan Ronaldo menghancurkan lawannya.
"Itu pengalaman terburuk dalam karier saya," kata Nesta. Nesta lalu menyaksikan video pertandingan itu berulang-ulang, berusaha mencari tahu apa saja kesalahannya, sampai akhirnya dia menemukan momen eurekanya: memang tidak ada yang bisa dilakukan, "Ronaldo," katanya, "sesederhana tak bisa dihentikan."
Semua keajaiban itu dilakukannya di usia yang masih sangat belia. Penampilan terbaik seorang pesepakbola dalam 30 tahun terakhir, mungkin p**a sepanjang masa. Messi dan Ronaldo-yang-itu pada masa remajanya memang brilian, tapi tidak ada yang seberpengaruh Ronaldo di usia yang sama. Hanya Pelé, Diego Maradona, dan George Best yang bisa dibandingkan dengannya.
Pada tahun 1997, ketika usianya baru 21 tahun, ia telah menjadi pemenang Ballon d'Or paling muda, rekor yang masih dipegangnya. Ia juga dua kali menjadi pemain termahal di dunia, sebelum ulang tahunnya yang ke-21—sampai sekarang belum ada pemain lebih muda yang memecahkan rekor transfer dunia.
Tentu tidak semua orang setuju Ronaldo yang ini jauh lebih hebat daripada Ronaldo-yang-itu. Sir Alex Ferguson mantan pelatih Manchester United, misalnya. "Jika saya harus membandingkan Ronaldo dengan Ronaldo yang gemuk, yang tua, Cristiano lebih baik," kata Alex pada 2013.
Tapi adilkah perbandingan itu?
Benar kata Alex, Ronaldo yang asli sekarang sudah tua dan kelebihan lemak. Tapi siapa yang bisa menyangkal kedigdayaan masa mudanya? Siapa p**a yang berani menjamin Ronaldo KW tidak gembrot di masa tuanya nanti?
Selamat ulang tahun ke-40, Ronaldo. Semua orang yang menua berhak menjadi gemuk dan menikmati hidup.
(tirto.id - arl/nqm)