09/02/2025
Kelian Desa Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna menyebutkan cendekiawan Hindu Dharma mengambil kesimpulan bahwa proses perayaan ogoh-ogoh melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta, dan waktu yang maha dasyat.
Ditambahkan dia, ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara hari raya Nyepi. Sejak tahun 80-an, umat Hindu mengusung ogoh-ogoh yang dijadikan satu dengan acara mengelilingi desa dengan membawa obor atau yang disebut acara ngerupuk.
Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai dengan diiringi irama gamelan khas Bali yang diberi nama baleganjur. Patung yang dibuat dengan bahan dasar bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu, merupakan kreativitas dan spontanitas masyarakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngerupuk.
"Karena tidak ada hubungannya dengan hari raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun, benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara," imbuhnya.
Selengkapnya : https://www.denpost.id/bali/105514469442/ogoh-ogoh-disebutkan-tak-memiliki-hubungan-langsung-dengan-nyepi